Bomber Graf!TY Indonesia

Jangan cuma kanvas yang di gambar tembok juga

Penyesalan

PENYESALAN selalu saja datang terlambat. Ketika nasi sudah menjadi bubur, lahirlah kesadaran. Kesadaran yang terbangun setelah manusia mengalami pengalaman empiris yang membuat hatinya gunda gulana, sedih, kecewa, sakit hati dan lain-lain.

Bersamaan dengan itu, lahirlah keputusan. Keputusan yang benar-benar bijak, keputusan rasional, keputusan yang datang tanpa ujuk-ujuk, melainkan melalui sebuah proses panjang yang diberi nama eling (ingat). Hanya manusia-manusia yang waras atau eling saja yang masih punya rasa penyesalan.

Adalah Krisdayanti. Artis ternama yang puncak popularitasnya sudah teraih begitu lama. Ia sudah mencapai titik kulminasi tertinggi. Dan kurvanya cenderung menurun, seiring dengan bertambahnya usia, munculnya pesaing-pesaing baru dan banyaknya godaan yang datang bertubi-tubi.

Beberapa hari lalu, sang Diva menyesal. Ada air mata menetes di pipinya. Penyesalan itu ia ungkapkan kepada publik, terkait kisah asmaranya dengan pengusaha asal Timor Leste, Raul Lemos. KD –inisialnya– juga meminta maaf secara terbuka kepada istri Raul, Ata, karena telah lancang memacari suaminya. Tidak hanya meminta maaf kepada Ata saja. Pelantun ‘Mencintaimu’ itu juga meminta maaf kepada sang kakak, Yuni Shara, karena ia merasa telah menjerumuskannya ke dalam kemelut kisah cintanya sehingga sang kakak disomasi Ata.

Pengakuan dan rasa penyesalan KD itu –walau perilakunya tak terkait dengan kepentingan publik, tetapi pengakuan dan kejujurannya yang disampaikan kepada publik– menyisakan pelajaran berarti buat negeri ini.

Berkata jujur, apa adanya dan menyesal. Tiga point itu yang belakangan mulai pudar. Dulu, para leluhur kita mengajarkan kepada anak cucu kita agar bersikap gentle, apa adanya dan terbuka serta berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

Ungkapan permintaan maaf, membuat hati menjadi bersih (plong) walau mereka yang dimintai maaf tidak mau menerima dengan tangan terbuka. Lalu bagaimana dengan para koruptor di negeri ini? Akankah mereka berani meminta maaf kepada 250 juta penduduk Indonesia? Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka pasca vonis yang dijatuhkan pengadilan tipikor. Banding dan banding. Masih saja bergelut atau bermain di ranah hukum.

Padahal, faktanya, uang milik negara yang notabene milik rakyat yang diembat (diambil dengan menggunakan pendekatan kekuasaan) telah diselewengkan untuk kepentingan pribadi. Budaya gentle, mau mengakui kesalahan dan siap menanggung segala resiko akibat segala tindak-tanduknya yang tak terpuji, serta mau meminta maaf kepada publik, rasanya sudah saatnya kita tanamkan kepada para pewaris negeri ini.

Kalau toh sekarang para koruptor tidak mau meminta maaf, itu urusan mereka. Nanti pengakuan mereka akan kita saksikan beramai-ramai di hari akhir, di depan Tuhan Yang Maha Esa. Terpenting, kedepan anak-anak bangsa yang bakal menjadi pewaris negeri ini, kita warisi nilai-nilai kearifan, nilai-nilai kepatutan, nilai-nilai kejujuran dan segudang nilai lainnya.

Tujuannya, agar mereka tidak terkena penyakit tipu-tipu, penyakit yang mementingkan diri sendiri dan kelompoknya, penyakit yang merugikan manusia lain, penyakit yang membuat hatinya keras, sekeras batu akibat perilaku pragmatis.

Kami masih percaya bahwa dari sekian ratus juta masyarakat Indonesia, masih ada manusia-manusia yang waras, manusia-manusia yang tak latah (ikut rusak dengan alasan kalau tidak begitu tidak bisa makan), manusia-manusia yang eling, manusia-manusia yang memiliki kesadaran bahwa negeri ini harus dikelola dengan baik sehingga benar-benar menjadi mercusuar dunia yang menjadi dambaan semua manusia.

Negeri yang patut diteladani, negeri yang semua rakyatnya taat pada hukum, negeri yang makmur, aman dan tenteram, negeri yang masyarakatnya bebas dari perilaku-perilaku buruk, negeri yang pemimpinnya selalu mengutamakan kesejahteraan rakyat dan negeri yang selalu melahirkan manusia-manusia cerdas dan berhati baik. Akankah?

rekomendasi :

http://sosbud.kompasiana.com

25 Mei 2010 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: